Merawat Akar, Menguatkan Rantau: Milad Ke-8 Suku Chaniago Perkokoh Persatuan Warga Minangkabau di Jawa Barat

banner 120x600

Bandung, Lensanusantarabandung.web.id – Semangat mempererat tali persaudaraan sesama perantau Minangkabau mewarnai peringatan Milad Ke-8 Suku Chaniago yang digelar di Hotel Asrilia, Jalan BKR, Kota Bandung, Rabu malam (29/7/2026). Acara yang berlangsung hingga menjelang tengah malam tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat silaturahmi, menjaga nilai-nilai adat, sekaligus meneguhkan komitmen persatuan masyarakat Minangkabau di tanah rantau.

Kegiatan ini dihadiri Staf Penghubung Ranah dan Rantau Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, para ninik mamak, tokoh masyarakat Minangkabau di Bandung dan Jawa Barat, serta perwakilan berbagai organisasi dan paguyuban kekerabatan Minangkabau. Turut hadir perwakilan Himpunan Suku Koto Bandung Raya (HSKBR), Keluarga Besar Suku Chaniago, Suku Tanjung, Suku Jambak, serta unsur organisasi Minangkabau lainnya.

Salah satu agenda utama dalam peringatan milad tersebut adalah pembentukan Tim 13 Ninik Mamak yang diprakarsai Ketua Suku Chaniago, Edwar. Tim ini dibentuk sebagai lembaga adat yang memiliki peran strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan warga Suku Chaniago melalui pendekatan musyawarah dan mufakat.
Melalui mekanisme tersebut, setiap persoalan diharapkan dapat diselesaikan terlebih dahulu secara kekeluargaan sesuai nilai-nilai adat Minangkabau. Apabila penyelesaian tidak tercapai, persoalan selanjutnya dapat ditempuh melalui mekanisme sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam kesempatan itu, Zulkarnain Nikoto selaku perwakilan Himpunan Suku Koto Bandung Raya (HSKBR) mengajak seluruh organisasi dan keluarga besar Minangkabau di Jawa Barat untuk terus mengedepankan persatuan di atas perbedaan suku.
Menurutnya, keberagaman suku seperti Koto, Chaniago, Jambak, Tanjung, dan suku-suku lainnya merupakan kekayaan budaya yang harus menjadi perekat persaudaraan, bukan justru menjadi pemisah.

“Walaupun kita berasal dari suku yang berbeda, kita tetap berada dalam satu rumah besar Minangkabau. Di tanah rantau, yang kita bangun adalah persaudaraan, silaturahmi, dan kebersamaan,” ujar Zulkarnain.
Ia juga berharap sinergi antarpaguyuban Minangkabau semakin erat sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Minang di Bandung Raya maupun di seluruh Jawa Barat.

“Silaturahmi bukan hanya memperpanjang hubungan persaudaraan, tetapi juga menjadi jalan terbukanya rezeki dan lahirnya berbagai kolaborasi positif. Mari kita bersatu atas nama Minangkabau dan Sumatera Barat,” tambahnya.
Suasana perayaan semakin semarak dengan penampilan penyanyi Minang Ody Malik yang hadir langsung dari Sumatera Barat, didampingi sejumlah artis dari Jakarta. Penampilan mereka mendapat sambutan meriah dari ratusan tamu yang memadati lokasi acara hingga akhir kegiatan.

Peringatan Milad Ke-8 Suku Chaniago tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga falsafah hidup masyarakat Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK)”. Falsafah tersebut menempatkan musyawarah, penghormatan kepada ninik mamak, serta nilai-nilai keagamaan sebagai landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Di tengah kehidupan perantauan yang majemuk, nilai-nilai adat tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan, memperkuat identitas budaya, serta membangun solidaritas antarsesama warga Minangkabau.

Melalui momentum Milad Ke-8 ini, keluarga besar Minangkabau di Bandung Raya dan Jawa Barat diharapkan semakin solid dalam menjaga warisan adat, mempererat ukhuwah, serta terus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi di Jawa Barat.

Redaksi Lensanusantarabandung.web.id
Reporter: Hj. Rere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *