Kemarau Menguat, Mata Air di Cilengkrang Serentak Menyusut: Saatnya Cintai Hutan dan Terapkan Konservasi Murah yang Bermanfaat

banner 120x600

Lensanusantarabandung.web.id-Kabupaten Bandung, 29 Juli 2026 – Musim kemarau tahun 2026 yang telah berlangsung sekitar dua setengah bulan mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga, khususnya di wilayah RT 01/RW 03 dan sekitarnya, mengalami penurunan debit air secara signifikan.

Mata air tersebut selama ini menjadi sumber utama kebutuhan air bersih rumah tangga sekaligus menopang aktivitas peternakan sapi perah yang menjadi mata pencaharian banyak keluarga. Menurunnya debit air menjadi tantangan serius karena kebutuhan air untuk ternak tetap tinggi, sementara pasokan air terus berkurang.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, penyusutan debit mata air tidak semata-mata disebabkan oleh minimnya curah hujan selama musim kemarau. Di kawasan hulu, sekitar dua kilometer menuju lereng Gunung Manglayang, terlihat banyak area lahan yang telah kehilangan tutupan vegetasi hutan. Kondisi tersebut mengakibatkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air hujan semakin menurun.

Tanpa keberadaan pepohonan beserta lapisan serasah yang berfungsi sebagai penyerap air alami, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan dan tidak tersimpan sebagai cadangan air tanah. Akibatnya, mata air yang bergantung pada simpanan air tanah mengalami penyusutan lebih cepat saat musim kemarau.

Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat akan perlunya meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan dan lingkungan. Upaya pelestarian tidak harus menunggu program besar, tetapi dapat dimulai dari lahan milik sendiri dengan menanam pohon yang memiliki manfaat ekologis sekaligus bernilai ekonomi.

Beberapa jenis tanaman yang direkomendasikan antara lain:
Pohon Gamal, yang memiliki daun bernutrisi tinggi sebagai pakan ternak, batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku arang, serta memiliki sistem perakaran yang mampu menahan erosi dan meningkatkan daya resap air ke dalam tanah.

Kemiri Sunan, yang menghasilkan biji untuk diolah menjadi minyak nabati, baik sebagai bahan pangan maupun energi alternatif, serta memiliki tajuk rindang dan akar kuat yang efektif menjaga kestabilan tanah dan konservasi air.

Penerapan konservasi berbasis vegetasi dinilai sebagai salah satu solusi yang relatif murah, mudah dilakukan masyarakat, dan memberikan manfaat jangka panjang. Selain membantu menjaga ketersediaan air tanah, langkah ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengurangi risiko longsor dan degradasi lahan.

Masyarakat diharapkan menyadari bahwa keberlangsungan sumber mata air sangat bergantung pada kondisi hutan di kawasan hulu. Menanam pohon hari ini merupakan investasi bagi masa depan, agar mata air tetap mengalir, lingkungan tetap lestari, dan generasi mendatang dapat menikmati sumber daya alam yang sehat dan berkelanjutan.

Mari bersama menjaga hutan, melestarikan mata air, dan menghijaukan kembali lereng Gunung Manglayang demi keberlangsungan kehidupan masyarakat Kabupaten Bandung.

Redaksi hj rere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *