BANDUNG, lensanusantarabandung.web.id — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung terus mendorong transformasi digital dalam pengelolaan obat. Salah satu langkah terbaru dilakukan melalui peluncuran Si Geulis, sebuah platform digital yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pengelolaan, pemantauan hingga pengawasan obat.
Si Geulis merupakan singkatan dari Sistem Integrasi, Digitalisasi, Perencanaan, Pengelolaan dan Pengawasan Obat. Platform tersebut resmi diperkenalkan pada Kamis (8/10/2026) di Aula Bawah Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Kehadiran Si Geulis menjadi bagian dari upaya Dinkes Kota Bandung meningkatkan efektivitas pengelolaan obat yang selama ini menghadapi tantangan berupa data yang tersebar serta proses pengolahan informasi yang membutuhkan waktu.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Bandung sekaligus Project Leader Si Geulis, Detty Kurnia, mengatakan, sistem tersebut bukan sekadar mengubah pencatatan manual menjadi digital.
Menurutnya, Si Geulis diharapkan mampu mendorong perubahan pola kerja agar setiap proses pengelolaan obat dilakukan berdasarkan data yang terintegrasi.
“Si Geulis diharapkan tidak hanya mengubah pencatatan manual menjadi digital, tetapi juga mendorong perubahan budaya kerja. Dari data yang tersebar menjadi terintegrasi, dari reaktif menjadi preventif, dari asumsi menjadi berbasis data, dan dari bekerja secara parsial menjadi kolaboratif,” ujar Detty.
Melalui platform tersebut, berbagai proses pengelolaan obat dapat dipantau dalam satu sistem. Mulai dari perencanaan kebutuhan, kondisi stok, transaksi, pengendalian obat kedaluwarsa hingga pengawasan terhadap obat-obatan yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk psikotropika.
Si Geulis juga dilengkapi dashboard monitoring dan evaluasi. Data yang tersaji diharapkan dapat menjadi dasar bagi Dinkes maupun pengelola obat dalam menentukan langkah dan mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.
Bukan Sekadar Digitalisasi
Sekretaris Dinkes Kota Bandung, Ira Dewi Jani, yang hadir mewakili Kepala Dinkes, menegaskan bahwa pengelolaan obat memiliki hubungan erat dengan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Menurut Ira, kebutuhan obat tidak cukup hanya dihitung berdasarkan perkiraan. Kondisi stok, pola penyakit serta data epidemiologi perlu menjadi bagian dari perencanaan agar kebutuhan obat dapat dipenuhi secara lebih tepat.
“Si Geulis bisa menjadi instrumen untuk mengintegrasikan data dan proses pengelolaan obat sehingga informasi dapat diperoleh secara lebih cepat, akurat, dan mudah dikelola,” ujar Ira.
Dengan sistem yang terintegrasi, berbagai potensi persoalan diharapkan dapat diketahui lebih dini. Di antaranya ketidaksesuaian stok, risiko obat kedaluwarsa, keterlambatan pelaporan maupun persoalan lain yang membutuhkan tindak lanjut.
Hal tersebut dinilai penting mengingat pengelolaan obat memiliki rantai proses yang cukup panjang, mulai dari menentukan kebutuhan, penerimaan dan penyimpanan, pendistribusian, pencatatan penggunaan hingga pengawasan.
Pengembangan Si Geulis sendiri dilakukan melalui sejumlah tahapan. Dinkes terlebih dahulu melakukan pemetaan kebutuhan data dan proses bisnis, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan sistem, uji coba, penyempurnaan, sosialisasi hingga pendampingan kepada para pengguna.
Dalam proses pengembangannya, Dinkes juga melibatkan berbagai pihak, di antaranya Puskesmas, pengelola obat, tim teknologi informasi, apotek, Pedagang Besar Farmasi (PBF), perguruan tinggi, organisasi profesi serta pemangku kepentingan lainnya.
Diharapkan Menjadi Budaya Kerja
Dinkes Kota Bandung menyadari bahwa keberhasilan Si Geulis tidak hanya ditentukan oleh keberadaan teknologi. Kualitas data, kesiapan sumber daya manusia, kepatuhan pengguna, dukungan pimpinan serta koordinasi antarinstansi menjadi faktor penting agar sistem tersebut benar-benar dapat diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Ira berharap Si Geulis tidak berhenti sebagai inovasi berbasis teknologi, tetapi dapat menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan Dinkes Kota Bandung.
“Harapan kami Si Geulis dapat menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung, yaitu budaya kerja yang berbasis data terintegrasi, kolaboratif, adaptif terhadap teknologi serta berorientasi kepada hasil dan pelayanan masyarakat,” pungkasnya.
Dengan hadirnya Si Geulis, Dinkes Kota Bandung berupaya mengubah pengelolaan obat dari sekadar aktivitas pencatatan menjadi sistem yang lebih terukur, terintegrasi, transparan dan berbasis data, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Redaksi : hj rere















