BANDUNG, lensanusantarabamdumg.web.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai menguji coba penerapan ekosistem pangan sehat di lima sekolah sebagai langkah strategis untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
Program tersebut menitikberatkan pada pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), peningkatan pemahaman mengenai gizi seimbang, serta pembentukan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat sejak usia dini.
Pelaksanaan kebijakan ini mengacu pada Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Ekosistem Pangan Sehat di Lingkungan Sekolah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan sekolah yang mampu menunjang kesehatan dan tumbuh kembang anak secara optimal.
Uji coba dilakukan di lima sekolah dengan karakteristik yang beragam, mulai dari sekolah negeri, sekolah Islam, hingga pesantren. Program ini juga disertai pengumpulan data awal dan pemetaan jenis makanan yang tersedia di sekitar lingkungan sekolah.
Data tersebut nantinya menjadi dasar evaluasi untuk mengukur efektivitas kebijakan sekaligus menentukan strategi penerapan program secara lebih luas.
“Kami akan melakukan survei dasar dan pemetaan makanan di sekitar sekolah hingga tahun depan. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagaimana kebijakan ini dapat diterapkan secara efektif. Kebijakan pangan sehat memiliki fokus pada pembentukan lingkungan yang mendukung pola konsumsi sehat dan melengkapi berbagai upaya pemenuhan gizi peserta didik,” ujar Farhan saat audiensi bersama Partnership for Healthy Cities (PHC) terkait Program Gula, Garam, dan Lemak (GGL) di Balai Kota Bandung, Rabu (28/10/2026).
Menurut Farhan, membangun ekosistem pangan sehat di sekolah tidak cukup hanya dengan mengatur jenis makanan yang tersedia. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak melalui edukasi gizi, pengawasan lingkungan sekolah, sosialisasi lintas sektor, serta dukungan orang tua dalam membiasakan pola makan sehat di rumah.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Bandung merencanakan pelatihan bagi pengelola makanan, pengintegrasian literasi gizi ke dalam proses pembelajaran, serta pemantauan dan evaluasi secara berkala.
Pengembangan kantin sehat juga menjadi salah satu langkah yang didorong untuk memastikan peserta didik memiliki akses terhadap pilihan makanan yang lebih sehat di lingkungan pendidikan.
Selain pemenuhan kebutuhan pangan, Farhan menegaskan pentingnya sanitasi dan aktivitas fisik sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak. Pemkot Bandung saat ini melakukan pembenahan fasilitas sekolah, termasuk sarana toilet.
Pemkot Bandung juga tengah mengkaji bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kemungkinan penambahan porsi aktivitas olahraga bagi siswa sekolah dasar guna mendukung kebugaran dan perkembangan fisik mereka.
“Kota Sehat bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan dan berkelanjutan,” kata Farhan.
Sementara itu, Deputy Regional Director for Asia-Pacific Partnership for Healthy Cities, Farhad Ali, mengapresiasi perkembangan kebijakan sekolah sehat yang tengah dikembangkan di Kota Bandung.
Menurutnya, kolaborasi antara Pemkot Bandung, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut.
Farhad mengungkapkan, dokumentasi perkembangan program yang disusun oleh tim Bandung telah mendapat perhatian dari kantor PHC di New York. Dokumentasi tersebut bahkan diminta untuk dibagikan sebagai bahan referensi bagi kota-kota lain di kawasan Asia-Pasifik maupun wilayah lainnya.
“Kemajuan yang dicapai selama beberapa bulan dan tahun terakhir sangat baik. Dokumentasi yang disusun oleh tim ini juga mendapat apresiasi di tingkat global,” ujar Farhad.
Ia menjelaskan, program ekosistem pangan sehat tersebut masih berada dalam tahap uji coba di sejumlah sekolah. Oleh karena itu, hasil pelaksanaan akan terus didokumentasikan dan dievaluasi sebelum menjadi dasar pengembangan kebijakan selanjutnya.
Kemitraan antara PHC dan Kota Bandung diketahui berlangsung hingga akhir Desember 2028. Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan, berbagi pengalaman, serta membuka peluang pengembangan inisiatif lain yang mendukung terwujudnya kota sehat.
Ketua IAKMI Jawa Barat, Ahyani Raksanegara, menjelaskan bahwa pelaksanaan program melibatkan sejumlah perangkat daerah bersama tenaga ahli kesehatan masyarakat.
Melalui kemitraan dengan Vital Strategies dan PHC, dukungan yang diberikan meliputi konsultasi, pertukaran pengetahuan, serta berbagi pengalaman dengan kota-kota lain dalam mengembangkan kebijakan kesehatan masyarakat.
Ahyani menambahkan, salah satu hasil penting dari kolaborasi tersebut adalah tersusunnya kebijakan sekolah sehat yang dilengkapi pedoman teknis bagi satuan pendidikan.
Pedoman tersebut menjadi acuan bagi sekolah dalam menerapkan berbagai langkah untuk membangun ekosistem pangan sehat, termasuk mendorong tersedianya pilihan makanan yang lebih baik dan meningkatkan pemahaman peserta didik tentang pentingnya gizi seimbang.
Melalui uji coba di lima sekolah tersebut, Pemkot Bandung bersama para mitra akan terus menghimpun data, mengevaluasi pelaksanaan kebijakan, serta mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan di lapangan.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat penerapan ekosistem pangan sehat secara bertahap dan berkelanjutan di Kota Bandung. Dengan demikian, lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat bagi generasi muda sejak dini.
Redaksi : hj rere















