Pawai Jampana Meriahkan Penutupan HJKB ke-216, Angkat Budaya dan Kreativitas Warga Bandung

banner 120x600

Lensanusantarabandung.web.id-BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menutup rangkaian peringatan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) dengan menggelar Pawai Jampana yang berlangsung meriah dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Kegiatan ini menjadi momentum untuk melestarikan kearifan lokal sekaligus memberikan ruang bagi warga dalam menampilkan kreativitas dan keberagaman budaya.


Berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya yang identik dengan mobil hias pada malam hari melalui konsep City of Light, penutupan HJKB tahun ini dikemas dalam bentuk karnaval tradisional yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Berdasarkan pantauan Humas Bandung, ribuan warga tampak antusias menyaksikan arak-arakan yang melintasi Jalan Diponegoro hingga Jalan Merdeka sebelum memasuki kawasan Balai Kota Bandung. Sepanjang jalur pawai, masyarakat memadati sisi jalan untuk menyaksikan beragam penampilan yang menjadi bagian dari kemeriahan perayaan hari jadi kota.

Suasana semakin semarak dengan penampilan sejumlah pengisi acara, di antaranya Ega Robot, Kuburan Band, hingga Bungsu Bandung yang menghibur masyarakat di kawasan Balai Kota Bandung.

Pawai Jampana tidak hanya menjadi hiburan bagi warga, tetapi juga menghadirkan pesan budaya tentang pentingnya menjaga tradisi, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan kreativitas yang berakar dari masyarakat.

Jampana, Tradisi Lokal yang Sarat Makna
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan pemilihan Jampana sebagai bagian dari penutupan HJKB merupakan upaya menghadirkan pesta rakyat yang sederhana, meriah, dan tetap memiliki nilai budaya.

Jampana merupakan tandu hias yang dipanggul oleh empat hingga enam orang. Setiap kelompok peserta menampilkan ornamen dengan bentuk dan tema yang berbeda sesuai kreativitas serta karakter masing-masing wilayah.

Salah satu kreasi yang menarik perhatian adalah miniatur kereta api yang ditampilkan oleh Dinas Perhubungan. Selain menyuguhkan beragam ornamen, Jampana juga memiliki keunikan karena bagian dalamnya diisi berbagai jenis makanan yang dapat dibagikan kepada masyarakat selama arak-arakan berlangsung.

“Jampana itu adalah arak-arakan yang dipanggul oleh empat sampai enam orang. Di dalamnya diisi berbagai macam makanan. Nanti sambil lewat, dia berhenti dan orang bisa mengambil makanannya,” kata Farhan.

Menurutnya, konsep tersebut menjadi alternatif perayaan yang mengedepankan keterlibatan masyarakat dan menghidupkan kembali tradisi lokal dalam peringatan hari jadi Kota Bandung.
Berangkat dari Kreativitas Masyarakat
Farhan menjelaskan, gagasan penyelenggaraan karnaval tersebut berawal dari pengamatannya terhadap berbagai kegiatan yang digelar di tingkat kecamatan dalam rangkaian HJKB.

Pada 5–6 September, sehari setelah upacara peringatan Hari Jadi Kota Bandung, ia melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam menampilkan potensi, identitas, dan kreativitas wilayah masing-masing.

Pengalaman itu kemudian menjadi inspirasi bagi Pemkot Bandung untuk menghadirkan kegiatan yang memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam perayaan kota.

Pelaksanaan Pawai Jampana juga melibatkan kolaborasi dengan sejumlah institusi pendidikan, di antaranya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Taruna Nusantara.

Pemilihan waktu pelaksanaan pada pagi hari turut menjadi pertimbangan agar kegiatan dapat dinikmati masyarakat tanpa menimbulkan kemacetan berkepanjangan.
“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ujar Farhan.

Keberagaman Budaya Jadi Daya Tarik
Untuk menentukan peserta yang tampil dalam karnaval, Pemkot Bandung melakukan kurasi terhadap berbagai penampilan dari 30 kecamatan. Proses tersebut dilakukan agar kreasi yang ditampilkan dapat merepresentasikan potensi, keunikan, dan keberagaman masyarakat Kota Bandung.

Farhan menegaskan, kegiatan ini berangkat dari budaya serta inisiatif warga. Dengan demikian, kreativitas yang tumbuh di tingkat wilayah dapat menjadi bagian penting dalam membangun identitas kota.

Salah satu penampilan yang mencerminkan keberagaman tersebut berasal dari Kecamatan Mandalajati. Kelompok ini mengusung nuansa budaya Tionghoa melalui busana berwarna merah yang dipadukan dengan identitas masyarakat setempat.

“Mandalajati itu semuanya bergaya China. Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” jelasnya.

Penampilan tersebut menjadi gambaran bahwa keberagaman budaya dapat berjalan berdampingan dengan identitas dan karakter masyarakat Bandung yang majemuk.

Perayaan yang Memperkuat Kebersamaan
Melalui Pawai Jampana, Pemkot Bandung berharap peringatan HJKB tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi masyarakat untuk menampilkan potensi daerah, melestarikan tradisi, dan memperkuat semangat gotong royong.

Kemeriahan yang tercipta dari partisipasi warga menunjukkan bahwa sebuah perayaan kota tidak harus selalu bergantung pada kemegahan acara, tetapi juga dapat dibangun melalui kebersamaan, kreativitas, dan keterlibatan masyarakat.

Penutupan HJKB ke-216 melalui Pawai Jampana sekaligus menegaskan komitmen untuk menjadikan budaya lokal sebagai bagian penting dari pembangunan Kota Bandung.

Dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, tradisi tidak hanya dikenang, tetapi juga terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Redaksi : hj rere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *