Dari Barang Bekas Jadi Berkah, Ketua DPRD Cimahi Dorong Warga Kelola Sampah Bernilai Ekonomi

banner 120x600

Lensanusantarabandung.web.id-CIMAHI – Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, salah satunya dengan memilah dan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai jual. Semangat inilah yang digaungkan Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, melalui gerakan “Sampah Bisa Jadi Duit” yang mengajak masyarakat mengubah barang bekas menjadi sumber manfaat ekonomi.

Melalui unggahan di media sosial, Wahyu mengajak warga Kota Cimahi untuk tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Menurutnya, barang bekas yang dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah sekaligus membantu menjaga kebersihan lingkungan.

“Sampah bisa jadi duit!! Sahabat Aspirasi, ada yang melakukannya juga?” tulis Wahyu dalam unggahannya yang mendapat respons positif dari masyarakat.

Gerakan tersebut bukan sekadar ajakan, melainkan kebiasaan yang telah dilakukan Wahyu bersama warga di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka mengumpulkan berbagai jenis sampah anorganik, seperti botol plastik, kardus, kertas bekas, kaleng, besi tua, serta barang bekas lainnya yang masih memiliki nilai jual.

Setelah dipilah dan dikumpulkan, barang-barang tersebut dapat disalurkan kepada pengepul atau bank sampah. Hasil penjualannya kemudian bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bersama di lingkungan masyarakat.

Sampah Jadi Sumber Manfaat bagi Masyarakat
Wahyu menilai, pengelolaan sampah tidak seharusnya hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan, terutama di tengah tantangan penanganan sampah yang dihadapi Kota Cimahi.

Kondisi tempat pembuangan akhir yang mengalami tekanan kapasitas menjadi pengingat bahwa penanganan sampah perlu dilakukan sejak dari sumbernya. Karena itu, keterlibatan masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga, RT, hingga RW dinilai penting untuk mengurangi sampah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Pemilahan sampah sejak dari rumah dapat menjadi langkah awal yang mudah dilakukan. Barang-barang yang masih memiliki nilai jual dipisahkan dari sampah lainnya agar dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang atau jalur pengumpulan sampah yang sesuai.

Selain membantu mengurangi volume sampah, hasil penjualan barang bekas juga berpotensi memberikan manfaat langsung bagi warga.
Dana yang terkumpul dapat digunakan untuk menambah kas RT, mendukung kegiatan sosial, memberikan santunan kepada anak yatim, memperbaiki fasilitas umum, hingga menunjang kegiatan keagamaan.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah dapat menjadi kegiatan produktif yang memperkuat kepedulian sosial sekaligus mendorong kemandirian masyarakat.
Dorong Bank Sampah di Setiap RW
Wahyu juga mendorong para ketua RT, RW, lurah, dan camat untuk berperan aktif mengembangkan gerakan pengelolaan sampah di wilayah masing-masing.

Menurutnya, kesadaran masyarakat akan semakin kuat apabila pengelolaan sampah dilakukan secara terorganisasi dan menjadi kebiasaan bersama. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah membentuk atau mengaktifkan bank sampah di tingkat RW.
Melalui bank sampah, warga dapat mengumpulkan barang bekas secara berkala, melakukan pemilahan, serta menyalurkannya kepada pihak yang dapat memanfaatkan kembali material tersebut.

Gerakan ini juga berpeluang mempererat hubungan antarwarga karena kegiatan dilakukan melalui kerja sama dan semangat gotong royong.

Wahyu mengajak masyarakat Kota Cimahi agar tidak ragu memulai dari lingkungan terkecil. Menurutnya, perubahan besar dapat terwujud apabila setiap keluarga memiliki kesadaran untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Gerakan “Sampah Bisa Jadi Duit” diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk membangun pola pengelolaan sampah yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat memberikan nilai ekonomi, membantu kegiatan sosial, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi juga peluang untuk membangun kepedulian, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat.

 

Redaksi : hj neulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *